Indonesia | English
 
Pilih Operator pada kolom sebelah kiri
untuk melakukan Chat dengan menggunakan Y! messenger


 
Download YM!
 


CAPCHA » CAPCHA »
 
 
Anda dapat menuliskan pengaduan, kritik dan saran kepada BKIPM
kami akan secepatnya merespon pesan anda

terima kasih

53.055.064
 
 
 
 
PENOLAKAN KEPITING & LOBSTER BERTELUR MELALUI BBKIPM JAKARTA I

Senin, 02 Februari 2015 07:47, oleh: Administrator
 

Dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya lobster, kepiting dan rajungan yang berkelanjutan, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakkan dalam satu Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/PERMEN-KP/2015 tanggal 06 Januari 2015 tentang diperkuat oleh Surat Edaran Nomor 18/MEN-KP/I/2015 tanggal 20 Januari 2015  tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp.) dan Rajungan (Portunius pelagicus spp).

Otomatis sejak diberlakukannya peraturan tersebut, seluruh jajaran yang ada di Kementerian Kelautan dan Perikanan termasuk semua unsur yang ada pada Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) beserta Unit Pelaksana Teknis yang ada di bawahnya wajib menjalankan amanah dari Peraturan tersebut. Dan Balai Besar KIPM Jakarta I turut senantiasa bersiaga penuh guna mengawal penerapannya dilapangan.

 

Sepanjang periode Januari 2015 telah tercatat ratusan kali penolakan ekspor dan domestik masuk terdiri dari kepiting dan lobster bertelur. Setiap hari rata-rata menolak 10-20 shipment untuk domestik masuk dan 5-7 shipment untuk ekspor. Terakhir pada Kamis/29 Januari 2015 pukul 03.30 telah digagalkan upaya ekspor kepiting dan lobster bertelur sebanyak 5 (lima) shipment milik beberapa perusahaan dengan tujuan China. Ukuran kepiting bertelur yang akan di ekspor tersebut terdapat ukuran yang mendekati ukuran 1000 gr/ekor dan lobster 400 gr/ ekor. 

 

Dan telah ditemukan modus baru dimana pengiriman dengan menggunakan packing sistem tertutup (tanpa lubang) dengan ukuran panjang packing  1,5 meter. Isi packing terdiri dari kepiting dan lobster bertelur sebanyak 50 kg/ bok (bobot yang tidak lazim untuk packing normal).

 

Tentunya Penerapan Kebijakkan baru ini banyak menimbulkan Pro dan Kontra di Masyarakat khususnya kalangan Industri Perikanan Indonesia, meski sama-sama berat segala resiko harus kita tanggung bersama-sama guna menjaga warisan kelestarian sumber daya yang ada sampai anak cucu kita nanti untuk itu kerjasama semua pihak di dalam penerapannya sangatlah diharapkan. SAVE INDONESIA!      



Komentar

Berita lain

 
Share | |